Beranda > Misteri > Bangau Raksasa Pernah Hidup di Indonesia

Bangau Raksasa Pernah Hidup di Indonesia

Fosil bangau raksasa yang ditemukan di sebuah gua di Flores menambah panjang daftar makhluk berukuran ekstrem yang ditemukan di Indonesia, mulai dari manusia kerdil yang dijuluki “hobbits” dan gajah kerdil sampai tikus dan kadal terbesar di dunia.

Dalam jurnal Zoological Linnean Society edisi Desember, ahli paleontologi Hanneke Meijer dari Smithsonian National Museum of Natural History di Washington DC dan Rokus Due dari Pusat Arkeologi Nasional di Jakarta, mempublikasikan temuan tulang kaki bangau marabou, yang hidup 20.000 hingga 50.000 tahun lampau. Tulang kaki itu mengindikasikan tinggi burung itu sekitar 180 centimeter dan berat 16 kilogram. “Tampaknya bangau itu adalah unggas yang hidup di tanah,” tulis mereka dalam laporannya.

Tulang itu ditemukan dalam penggalian gua Liang Bua di sebelah barat pulau Flores, pada kedalaman sekitar 4,7 meter. Flores memiliki keistimewaan dari segi geografis karena pulau di timur Indonesia itu tak pernah terhubung dengan pulau atau daratan lain, membentuk evolusi makhluk hidup di dalamnya. “Banyak binatang berdarah panas berukuran kecil tumbuh lebih besar daripada di tempat lain di dunia, sedangkan mamalia berukuran besar menjadi lebih kecil,” kata Colin Groves, dosen Australian National University.

Tanpa mamalia karnivora, burung dan reptil tidak menghadapi persaingan ketat dalam mencari makanan, sehingga beberapa spesies tumbuh menjadi raksasa. Hingga saat ini, tikus yang panjangnya mencapai 40 centimeter dari kepala hingga badan dapat ditemukan di Flores. Begitu pula komodo, kadal terbesar di dunia, yang panjangnya 3 meter dan berat 70 kilogram.

Pada saat yang sama, sedikitnya makanan yang tersedia di pulau-pulau kecil itu, bila dibandingkan dengan apa yang terdapat di benua, kemungkinan berperan dalam penurunan ukuran gajah dan makhluk hidup lainnya. Yang paling terkenal adalah penemuan tulang manusia kerdil “hobbit” setinggi 120 centimeter, atau Homo floresiensis, yang hidup hingga 17.000 tahun lalu.

Meijer, yang juga berafiliasi dengan National Museum of Natural History di Leiden, Belanda menyatakan, “bangau ini pastilah lebih tinggi daripada manusia kerdil H. floresiensis.”

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: