Beranda > wanita > Batik Chic, Hanya Dibuat dari Batik Tulis

Batik Chic, Hanya Dibuat dari Batik Tulis

Tidak mudah memang meninggalkan pekerjaan yang telah digeluti lebih dari 11 tahun, apalagi saat tidak ada pekerjaan baru menanti. Jika biasanya kita memulai hari pagi-pagi benar, mengarungi kemacetan Jakarta, lalu bekerja hingga pukul 18.00 nanti, sekarang kita harus menghabiskan hari-hari berdiam diri di rumah. Bagi banyak orang, mungkin ini dijadikan alasan untuk menurunkan standar dan mencari pekerjaan hanya untuk menyibukkan diri. Ada juga yang justru menikmati kesempatan untuk bermalas-malasan.

Namun, bukan ini yang dialami Novita Yunus. Kini, sejak hampir satu tahun berhenti bekerja, ia telah membuka hampir 20 butik Batik Chic yang tersebar di seluruh ibukota.

“Sebenarnya semua pengalaman ini terasa sangat lucu, karena satu tahun lalu, saya bahkan tidak bisa membayangkan hidup akan membawa saya seperti sekarang,” ujar Novie, sapaan perempuan lulusan Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Sejak masih duduk di bangku kuliah, Novie sudah tahu keinginannya; ia ingin bekerja di bank. Cita-citanya tidak tercetus tiba-tiba, karena ia memang terinspirasi oleh sang ayah yang juga bekerja di bidang yang sama. Lebih aneh lagi, Novie ternyata memegang gelar sarjana hubungan internasional.

“Ya, sudah lama saya tertarik bekerja di bank. Saya mau mengikuti jejak ayah yang sangat mencintai pekerjaannya. And I did love this job, too. Saking sukanya, saya menghabiskan sebagian besar waktu di kantor, dan berkarier selama 11 tahun,” jelasnya.

Memang benar, pekerjaannya dulu sangat menyita banyak waktu. Apalagi, ia memegang posisi sebagai branch manager di salah satu bank di bilangan Pondok Indah. “Dengan posisi tersebut, mau tak mau sayalah yang harus memegang kunci kantor. Jadi, saya mesti tiba lebih dulu setiap pagi dan pulang paling akhir,” kenangnya.

Sayangnya, dengan kemajuan dalam karier berarti ia harus mengorbankan waktu bersama suami dan ketiga anaknya. Memang, ini adalah dilema yang selalu dihadapi para perempuan bekerja. Namun, setelah 11 tahun, Novie memutuskan sudah waktunya ia melakukan perubahan. “Saat berhenti bekerja di bulan November tahun lalu, saya harus melalui proses adaptasi yang cukup lama. Di bulan-bulan pertama, saya masih terbawa rutinitas pegawai kantoran, seperti bangun pagi dan mulai bekerja dengan laptop atau sekadar membaca berita. Sempat ada rasa khawatir akan masa depan. Apa lagi yang dapat saya lakukan, bisakah saya kembali ke dunia kerja? Pernah juga tercetus ide untuk menjadi seorang konsultan,” ujarnya.

Namun, salah satu hal yang menenangkan hati Novie adalah saat ia menghadiri seminar bertajuk Quantum Ikhlas bersama sang penulis, Erbe Sentanu. Di sini ia belajar untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan berhenti merasa takut. “Seminar tersebut mengingatkan saya bahwa sesungguhnya setiap manusia sudah memiliki porsinya masing-masing dalam hidup, mulai dari masalah jodoh sampai rezeki. Saat kita percaya, maka tidak ada lagi gunanya mengkhawatirkan hal-hal kecil,” paparnya.

The start of something new
Jika ingin membuka usaha baru, mulailah dari sesuatu yang kita suka, demikian selalu saran untuk pewirausaha baru. Inilah yang dilakukan oleh Novie. “Saya sangat menggilai tas. I’m a bag person. Jadi, beberapa saat setelah berhenti bekerja, saya memutuskan untuk menghadiahi diri sebuah tas collector’s item yang istimewa. Tapi, saat melihat harganya sangat mahal, akhirnya saya mengurungkan niat tersebut. Dari sinilah awal munculnya ide membuat bisnis tas,” jelasnya dengan penuh semangat.

Akhirnya bulan April 2010, gerai Batik Chic pertama pun dibuka. Pada awalnya memang fokus Novie adalah memproduksi tas sesuai passion-nya. Keputusan untuk mengeksplor batik juga bermuara dari pengalaman masa lalunya. “Waktu kecil saya tinggal di Jogja. Ibu saya sering membantu teman dan saudara untuk menjual batik ke Jakarta. Jadi, saya sering membantu ibu belanja batik ke pasar. Ketertarikan saya dengan batik bermula dari sana, dan terus berlanjut hingga sekarang.”

Dengan penuh percaya diri, Novie memanfaatkan network atau relasi lamanya untuk mencari info mengenai proses pendirian sebuah bisnis. Konsepnya sederhana, ia ingin membantu mengangkat derajat atau popularitas batik, khususnya di antara orang-orang muda. Untuk itulah, ia tidak pernah berkompromi dengan kualitas. “Tas batik memang banyak dimana-mana. Oleh karena itu, saya hanya memakai batik tulis atau batik lawas berkualitas tinggi. Jadi, bisa dipastikan tas saya pasti unik, karena satu lembar kain hanya bisa dibuat jadi empat tas. Lalu, saya juga memadukan batik dengan berbagai elemen menarik, seperti kulit ular, agar terlihat classy, berbeda, dan menimbulkan rasa bangga saat mengenakannya,” tutur Novie.

Bermula dari bisnis tas, lama-kelamaan kemudian berkembang pesat merambah barang fashion lainnya. Kini Batik Chic juga menjual pakaian, aksesori seperti tas iPad atau dompet, dan memiliki lini collector’s item dengan produk premium, dari batik langka yang hanya dibuat satu per motif. Dari bulan April hingga saat ini, sudah ada 20 gerai Batic Chic tersebar di mana-mana, antara lain di Alun-alun Grand Indonesia, dan yang terbaru di hotel Ritz Carlton dan JW Marriott Jakarta. Suatu prestasi yang luar biasa!

“Saya kadang sulit memahami mengapa orang rela antri berjam-jam saat setiap brand tertentu mengadakan sale. Padahal, jika kita kembangkan, saya yakin batik memiliki nilai jual tinggi. Tentunya, PR yang harus dibenahi adalah memperbaiki desain batik, agar bisa lebih accessible untuk berbagai kalangan. Jadi, batik bukan sekadar hal yang terkait dengan nilai-nilai tradisi, tapi bisa mendarah daging sebagai bagian gaya hidup masyarakat Indonesia. Inilah mimpi saya,” tambahnya seraya tersenyum.

Apakah Batik Chic siap bersaing dengan produk-produk pasar tradisional yang harganya jauh lebih murah atau brand lain yang bisa memproduksi secara massal, Novie mengaku tidak khawatir. Baginya, kekuatan Batik Chic justru terletak pada keunikan konsepnya yang one of a kind. Sementara untuk urusan harga, ia percaya bahwa pelanggannya tidak akan mengeluh.

“Saat berbicara tentang batik, khususnya batik tulis, kita tidak bisa mengatakan murah atau mahal, kaerna ini adalah karya seni. Bayangkan, satu batik tulis membutuhkan waktu tiga bulan untuk membuatnya. Dilakukan oleh para pengrajin dengan passion yang tinggi, karena mereka telah melakukannya bertahun-tahun. We can’t put a price on that,” tandasnya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: